Tren motor kustom yang kini banyak digandrungi, dilihat oleh beberapa pabrikan otomotif sebagai peluang. Ya, pabrikan tersebut pun berlomba untuk menghadirkan motor dengan tampilan klasik guna memenuhi permintaan pasar.
Sadar akan hal itu, lewat gelaran BCA Expo beberapa waktu lalu, salah satu jenama Amerika Serikat, melalui PT Sumatra Motor Indonesia (SMI) meluncurkan Cleveland Cyclewerks Ace 400 bergaya cafe racer. Ya, motor yang 2017 silam menggendong mesin seperempat liter, kini dibekali mesin yang lebih besar yakni 400 cc.
Saya pun telah mencoba Ace 400 selama dua hari. Motor yang dibanderol Rp 72 juta on the road (OTR) Jakarta dengan status rakitan dalam negeri (CKD) kini menjadi lebih kompetitif. Melihat harga yang ditawarkan dengan kapasitas mesin yang cukup besar, sepertinya bisa jadi alternatif bagi Anda.
Pertama-tama kita bahas terlebih dahulu tampilan dan desain dari Ace 400. Bagi Anda yang familiar dengan Ace 250 cafe racer, maka Ace 400 akan terlihat lebih besar namun tetap kompak. Ya, sebab di motor ini punya panjang 2.040 mm, lebar 810 mm dan tinggi 1.080 mm.
Secara tampilan, sesuai gaya yang dipilih, Ace 400 memang menawarkan motor dengan tampilan klasik bergaya cafe racer. Sebagai cafe racer, motor ini mengaplikasikan jenis setang clip-on yang dijepit tepat di bawah segitiga atas. Kemudian desain tangkinya sedikit mengoval lengkap dengan lekukan di bagian pinggir semakin membuat rigid ketika paha menjepit.
Bicara tampilan depan, bentuk headlamp-nya membulat yang sudah mengadopsi teknologi LED dengan garis pemisah horizontal di bagian tengah. Sementara lampu seinnya masih menggunakan bohlam konvensional dengan mika berwarna jingga, pemilihan mika ini semakin menyisipkan nuansa klasik.
Sementara untuk tampilan belakang, desainnya terlihat sederhana dengan menggunakan LED pada bagian lampu belakang. Nah, pembeda dengan Ace 250 cafe racer adalah menihilkan spakbor dan mengganti dengan model mudguard yang juga sebagai tempat dudukan plat nomor.
Secara total, saya tak mempersoalkan desain keseluruhan motor ini, Cleveland Ace 400 cafe racer mampu menyita perhatian di jalanan dengan tampilannya yang mencirikan sebagai motor old-school. Ya, tak jarang saya menjadi pusat lirikan ketika di lampu merah.
Posisi berkendara
Motor ini punya bentuk yang ramping untuk kelas motor 400 cc. Saat pertama kali menduduki, impresi pertama adalah motor terasa pendek. Musababnya, Ace 400 punya tinggi jok 780 mm dipadukan dengan ground clearance 150 mm dan jarak wheelbase 1.419 mm.
Saya memiliki postur tinggi 172 cm bisa menapakkan kedua kaki secara sempurna, bahkan terlihat sedikit menekuk. Sepertinya, dengan postur tinggi 160-165 cm pun kaki pengendara masih bisa menapak dengan sempurna.
Selanjutnya soal posisi tangan, meski punya karakter berkendara cenderung menunduk, melewati kemacetan saya tak merasakan gejala pegal yang berlebih. Namun, lain cerita ketika motor dipakai berboncengan, karena menahan beban dari pembonceng gejala pegal pada tangan baru terasa.
Ya, ini juga dikarenakan bentuk dan desain joknya yang mengadopsi gaya single seater atau hornet (buntut tawon) yang kerap diaplikasikan pada motor jenis cafe racer. Meski ada ruang untuk tempat duduk dan footstep pembonceng, sepertinya motor lebih nyaman ketika dipakai sendiri.
Radius putar-nya yang sempit ditambah setang yang menunduk mengharuskan badan ikut bermain ketika ingin berbelok. Tapi itu bukan masalah, tak butuh waktu lama untuk adaptasi, saya pun mulai terbiasa. Nah, jenis setangnya yang sedikit menjepit punya keuntungan ketika bermanuver di tengah kemacetan.
Fitur
Mengusung tema motor klasik ala cafe racer, fitur yang ditanamkan pada Ace 400 bukan yang paling terlengkap. Pada panel instrumen, motor ini mengkombinasikan speedometer analog dengan digital lengkap dengan tachometer, kedua indikator tersebut menggunakan latar cahaya kebiruan dengan sedikit sentuhan warna putih dan merah.
Panel instrumennya menyediakan beberapa informasi seperti odometer, trip A, trip B, engine check, oil check, keterangan jam, dan indikator bahan bakar. Sayangnya, untuk informasi gear shift tak disematkan.
Sementara untuk aspek keselamatan, motor ini sudah dibekali sistem pengereman ABS (Anti-lock Braking System) depan dan belakang, engine oil cooler, automotive grades ABS, dan sensor standar yang berguna sebagai engine safety.
Handling dan suspensi
Beralih soal handling dan suspensi pada Ace 400, saya cukup merasa puas dengan karakter handling motor ini. Penggunaan suspensi berjenis upside down 37 mm ternyata bukan hanya sekedar pemanis namun bekerja sebagai fungsinya.
Untuk suspensi belakangnya masih menggunakan jenis dual shock namun menggunakan subtank. Karakter suspensi depan dan belakang sepertinya dibuat di kelas medium, artinya tak empuk dan tak juga keras. Komposisi suspensi seperti ini punya poin plus ketika dipakai dalam akselerasi ataupun ketika melahap tikungan dalam kecepatan tinggi. Terbilang pas untuk mengakomodasi penggunaan harian.
Performa mesin
Untuk dapur pacu, motor ini menggendong mesin berkapasitas 397 cc, satu silinder, SOHC 4-tak, berpendingin cairan dan berpengabut injeksi. Dari data teknis, motor ini punya rasio kompresi 8.8:1 dengan diameter silinder 85 mm dan jarak piston 70 mm.
Di atas kertas mampu hasilkan tenaga maksimal 27,7 dk (daya kuda) pada 7.500 rpm dan torsi maksimal 30 Nm pada 5.600 rpm. Daya mesin dikawinkan dengan transmisi manual 5-percepatan dengan saluran pembuangan gas double exhaust.
Karakter mesinnya terbilang biasa untuk kelas 400 cc, namun untuk tenaga dan torsi bawahnya sanggup memberikan pengalaman yang mengasyikkan. Tenaganya disalurkan secara linear hingga putaran mesin tengah. Namun, untuk putaran mesin atas, tak segahar pada putaran mesin bawahnya.
Nah, karena menggunakan konfigurasi mesin satu silinder, getaran pada motor masih terasa. Getaran paling terasa ketika di transmisi gigi satu, selebihnya getaran masih dalam batas wajar untuk motor satu silinder 400 cc.
Untuk suhu mesin, saya kategorikan bersahabat di kelas motor 400 cc. Apalagi ada komponen oil cooler yang punya fungsi menjaga suhu oli ketika mesin panas, Jadi, pelumasan oli terhadap mesin tetap akan bekerja optimal.
Sistem pengereman
Untuk mengimbangi performa mesinnya, Cleveland Cyclewerks mengaplikasikan pengereman cakram ganda pada roda depan dengan masing-masing kaliper dua piston yang diposisikan secara radial. Untuk pengereman, saya cukup puas dengan performa yang dihasilkan.
Sementara di belakang, Ace 400 ini juga menggunakan cakram tunggal yang berpadu dengan kaliper satu piston. Sebagai informasi, pada tuas rem bagian depan dilengkapi dengan pengaturan jarak main tuas. Jadi, pengendara bisa mengatur sesuai kebutuhan dan jarak tangan.
Konsumsi BBM
Bagi Anda yang punya rencana meminang motor ini sebagai kendaraan harian dan mempertimbangkan masalah konsumsi bahan bakarnya, saya sudah mengujinya dengan metode full to full. Sebab di panel instrumen belum tersedia fitur MID (Multi Information Display)
Dengan gaya berkendara normal dan menggunakan knalpot aftermarket, satu liter BBM RON 92 mampu menempuh 18,6 kilometer. Bisa dikategorikan Ace 400 termasuk irit untuk jenis motor di kelas 400 cc. Sebagai informasi, motor ini mampu menenggak 13,5 liter BBM.
Kesimpulan
Sebagai penantang baru di segmen motor 400 cc, Cleveland Cyclewerks sepertinya serius untuk menghadirkan motor bergaya kustom namun tetap fungsional dan tak mengurangi nilai kenyamanan ketika dipakai berkendara.
Dimensinya yang tak terlalu besar serta mesinnya yang mudah dikendalikan sepertinya cocok bagi Anda yang ingin naik kelas. Apalagi bobotnya yang hanya 155 kilogram untuk kelas motor besar bisa jadi pertimbangan bagi Anda.
Nilai plusnya, Anda tak perlu menunggu lama untuk memiliki motor bergaya kustom klasik yang butuh proses ketika penggarapan. Apalagi, ketika di jalan motor ini sukses menuai perhatian. Ya, bisa dibilang punya kebanggan sendiri ketika menaikinya.
Bagaimana, Anda tertarik dengan Cleveland Cyclewerks Ace 400 Cafe?
Penulis/Foto: Bangkit Jaya Putra (Media Kumparan)